Industri Mikro Kecil NTT di Persimpangan Transformasi Digital - Berita dan Siaran Pers - Badan Pusat Statistik Kabupaten Manggarai

Dapatkan publikasi terkini BPS Kabupaten Manggarai di halaman ini, dan kunjungi juga site tentang kami disini

Bantu kami meningkatkan pelayanan statistik dengan cara mengisi Survei ini

Untuk mendapatkan data BPS silakan datang ke Pelayanan Statistik Terpadu BPS Kabupaten Manggarai, Jl. Bougenville Kelurahan Pau Kecamatan Langke Rembong, Ruteng, setiap hari kerja jam 07.30-16.00 WITA

Beranda

Produk - Berita dan Siaran Pers

Industri Mikro Kecil NTT di Persimpangan Transformasi Digital

Industri Mikro Kecil NTT di Persimpangan Transformasi Digital

Industri Mikro Kecil NTT di Persimpangan Transformasi Digital

24 Agustus 2026 | Kegiatan Statistik Lainnya


Artikel Ini Telah Tayang Di Garda Indonesia Dengan Judul : Industri Mikro Kecil NTT di Persimpangan Transformasi Digital - Garda Indonesia. Baca Selengkapnya : https://gardaindonesia.id/industri-mikro-kecil-ntt-di-persimpangan-transformasi-digital/

Oleh : Arumia Mustika Rani, Pranata Komputer Ahli Pertama BPS Provinsi NTT 

Bukan suatu hal yang tidak mungkin, sebuah produk tenun ikat khas Alor terjual ke luar negeri hanya lewat sekali klik di layar ponsel. Melalui satu unggahan produk di media sosial mampu menjangkau ribuan calon pembeli tanpa terhalang jarak geografis. 

Daya saing suatu usaha tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital untuk memperluas pasar dan menjangkau konsumen. 

Namun, bagi ribuan pelaku Industri Mikro dan Kecil (IMK) di Nusa Tenggara Timur (NTT), bayangan itu masih menjadi barang mewah. Di tengah maraknya tren pasar berbasis internet, bumi Flobamora justru menghadapi realitas yang kontras. Potensi ekonominya yang luar biasa besar belum sepenuhnya menikmati buah manis dari transformasi digital. 

Padahal, potensi dari sektor ini sangat masif. Sebanyak 145,2 ribu unit usaha IMK tersebar di NTT, menjadikannya sebagai provinsi kelima dengan jumlah IMK terbanyak di Indonesia pada tahun 2024 (BPS, 2024). Gambaran tersebut menjadi tanda bahwa denyut ekonomi daerah tidak hanya bertumpu pada sektor-sektor besar, tetapi juga digerakkan oleh ribuan pelaku usaha industri mikro dan kecil yang tersebar hingga pelosok desa. 

Selain jumlah usahanya yang besar, IMK juga dikenal sebagai sektor padat karya. Pada tahun 2024, BPS mencatat bahwa IMK di NTT mampu menyerap 219.953 tenaga kerja, meningkat 3,62 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Menariknya, sekitar 65,90 persen tenaga kerja IMK di NTT merupakan perempuan. Ini menunjukkan bahwa keberlangsungan IMK juga berperan penting dalam pemberdayaan ekonomi perempuan dan peningkatan kesejahteraan rumah tangga. 

Dominasi industri tekstil yang mencapai 51,22 persen memberikan gambaran bahwa sebagian besar IMK NTT berbasis pada keterampilan masyarakat dan sumber daya lokal. Sementara industri makanan dan minuman mencerminkan potensi besar pengolahan hasil pertanian dan peternakan yang dimiliki NTT. 

Namun, besarnya angka jumlah usaha IMK belum sepenuhnya diiringi dengan kemampuan memanfaatkan teknologi digital. Di tengah perubahan perilaku konsumen dan semakin luasnya pasar berbasis internet, sebagian besar IMK di NTT masih menjalankan usahanya dengan metode lama yang belum masuk fase digitalisasi. 

Walaupun data menunjukkan adanya peningkatan persentase usaha IMK yang menggunakan internet dalam pengelolaan usahanya menjadi 13,83 persen di tahun 2024, angka ini belum cukup untuk menunjukkan keberhasilan digitalisasi usaha di NTT. 

BPS juga mencatat bahwa dari seluruh usaha IMK di NTT pada tahun 2024, sebanyak 11,88 persen memanfaatkan internet untuk pemasaran produk. Selain itu, sebanyak 22,13 persen usaha IMK menggunakan internet untuk pencarian informasi terkait pengembangan usaha. Sebagian kecil usaha IMK memanfaatkan internet untuk pembelian bahan baku dan pembayaran transaksi, masing-masing sebesar 1,61 persen dan 1,40 persen. 

Digitalisasi IMK di NTT masih berjalan di permukaan. Internet cenderung dimanfaatkan sebagai mesin pencari informasi daripada sebagai alat untuk memperluas pasar maupun meningkatkan efisiensi usaha. Padahal menurut hasil penelitian yang berjudul “Pengaruh Media Sosial Terhadap Pertumbuhan UMKM: Studi Kasus Strategi Pemasaran Digital di UMKM Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur”, menunjukkan bahwa 80 persen UMKM mengalami peningkatan penjualan sebesar 20—50 persen setelah aktif menggunakan media sosial. Jika situasi ini tidak mengalami perubahan, IMK berpotensi hanya menjadi penonton di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital nasional. 

Rendahnya pemanfaatan internet oleh IMK tidak dapat dilepaskan dari kondisi digital di NTT yang masih menghadapi berbagai tantangan. Berdasarkan data BPS, lebih dari 30 persen masyarakat NTT masih belum menikmati akses internet, terlihat dari tingkat penetrasi internet di NTT yang baru mencapai 67,75 persen pada tahun 2024. Kondisi ini sejalan dengan data yang menunjukkan bahwa hanya 54,84 persen penduduk berusia lima tahun ke atas yang telah mengakses internet dalam tiga bulan terakhir. Hampir setengah penduduk NTT belum pernah memanfaatkan internet, bahkan untuk aktivitas sederhana seperti menggunakan media sosial atau berkomunikasi melalui aplikasi pesan seperti WhatsApp. Selain itu, hingga tahun 2024 masih terdapat 22 desa yang belum terjangkau layanan internet karena belum memiliki sinyal, baik melalui jaringan GSM maupun CDMA. 

Kondisi ekosistem digital yang belum merata ini menciptakan ruang gerak yang terbatas bagi IMK. Ketimpangan infrastruktur jaringan dan rendahnya pemanfaatan internet untuk kegiatan produktif di tingkat masyarakat, pada akhirnya turut menghambat kesiapan para pelaku usaha dalam mengadopsi sistem bisnis berbasis digital. 

Namun, apakah solusi digitalisasi cukup dengan memperluas akses internet? Atau yang lebih mendesak adalah memahami karakteristik, kebutuhan, dan tantangan setiap pelaku IMK agar kebijakan yang diberikan benar-benar tepat sasaran? 

Selama ini, solusi digitalisasi IMK sering berfokus pada pelatihan penggunaan media sosial atau marketplace. Padahal, pendekatan tersebut belum tentu menjawab kebutuhan setiap pelaku usaha. IMK tekstil di desa tentu menghadapi tantangan yang berbeda dengan industri makanan di kawasan perkotaan. Kebijakan yang seragam justru berpotensi tidak efektif. 

Di sinilah Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) memiliki peran strategis. Melalui pendataan yang menyeluruh terhadap seluruh pelaku usaha, SE2026 ini akan menghasilkan gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi riil usaha, termasuk IMK, tidak hanya di NTT juga di seluruh Indonesia. Informasi tersebut menjadi dasar penting dalam merumuskan kebijakan pengembangan Industri Mikro Kecil, memperluas program digitalisasi, meningkatkan akses pembiayaan, hingga membuka peluang pasar yang lebih luas. 

Transformasi digital tidak hanya membutuhkan jaringan internet dan teknologi, tetapi juga data yang akurat sebagai kompas pembangunan. Dengan potensi IMK yang begitu besar, NTT memiliki peluang untuk melahirkan lebih banyak usaha yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing. 

SE2026 menjadi langkah awal untuk memastikan bahwa tidak ada pelaku usaha yang tertinggal dalam perjalanan menuju ekonomi digital. Tolong terima petugas kami di pintu Anda.
Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik Kabupaten Manggarai (Statistics Indonesia of Manggarai Regency)Jl. Bougenville Utara

Kelurahan Pau

Kecamatan Langke Rembong

Ruteng - Manggarai

NTTTelp (62-385) 2420098

Mailbox : [email protected]

logo_footer

Hak Cipta © 2023 Badan Pusat Statistik